Jika ditanya siapa aku?
Akulah mukmin yang akan hidup sebagai mukmin.
Ana Faqir, Hamba, Khalifah juga Insan..
~ Manusia mengawal pena dan menyusun kata-kata, agar ia menjadi catatan terbaik untuk dipersembahkan kepada Khaliqnya~
[With so many paint colours to choose from, it can be hard to pick the right one for your life.] Life is the sum of your choices.
— Albert Camus
Dan Kami anugrahkan kepda Ibrahim, Ishak dan Ya'qub, dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.
Murobbi adalah seorang guru atau pendidik. Ia mengajarkan Al Qur’an, hadits, dan kitab memberi suplai ilmu, memberikan wawasan baru sehingga murid-murid merasa tentram bersamanya. Serta seseorang murobbi berarti dia merupakan jejak pewaris Nabi, karena Nabi mengajarkan Islam dengantarbiyah. Jadi saatnya bersama menggelorakan jiwa mencetak kader serba bisa, mengubah potensi jadi prestasi, mengubah energi menjadi cahaya, mengubah ide menjadi karya, mengubah impian menjadi kenyataan.
Imam Hasan al-Banna merumuskan sasaran dakwah yang beliau dakwah dari warung kopi, bukan di mimbar masjid atau di kursi empuk parlemen.
Dari Kondisi keterbatasan itulah optimism dan gagasan besar dibangun
Dari orang biasalah dakwah bermula.
Membangun tarbiyah sebagai aktivitas yang lebih menyenangkan dari pada aktivitas yang lain. Agar indah bagai di jannah penuh bunga nan merekah. Hadir dengan wajah sumringah. Sampaikan nasihat dengan ikhlas agar dahsyat dan menggugah. Hemat berkata-kata agar tidak merusak ukhuwah. Tebarkan senyuman tulus tanpa menyimpan ghibah. Yang besar bukanlah dimulai dari yang besar, namun dimulai dari yang hal-hal kecil yang dilakukan dengan kesungguhan dan cinta. Cinta itulah ruh perubahan, cinta itulah yang menghilangkan segala rasa sakit. Sering kali hal-hal yang dianggap kecil berakibat penyesalan besar bila diremehkan.
Global Thinking
Bagian ini merupakan kabar gembira buat pegiat tarbiyah untuk mendapatkan “Parcel khusus dari Allah”. Ini merupakan spiritualitas tarbiyah dan amunisi agar rajin ngaji, yakni mendapatkan “Bidadari Edisi Spesial” plus bonus “ Agar Bidadari Naksir Padamu, Mau ?” Bangkitlah, sadarlah kita tengah melaju di jalan yang besar menuju padang mahsyar.
Kontrak tarbiyah
Belajar mesti dengan kesepakatan. Kontrak tarbiyah adalah energi. Energi “janaji” sebagai inspirasi berprestasi.
Spirit yang hilang
Ini inspirasi yang teserak di sana–sini untuk mengembalikan spirit tarbawi. Banyak kabar tak sedap ketika kader mulai terlelap dalam khilaf, tersesat dalam maksiat, ternoda dengan dosa, dan akhiratnya tersesat ke penjara dunia maupun neraka akhirat.
Breaking the limit
Pecahkan kebekukanmu dengan mungubah paradigma. Bila kita tidak bisa mengubah keadaan, ubahlah cara kita menghadapinya.
New Quantum tarbiyah
Menghadirkan gairah tarbiyah dengan mengemas secra baru dan jitu sepanjang waktu.
Kader dahsyat full manfaat.
Kader adalah asset pergerakan, motor perubahan, inspirator sekaligus konduktor dalam orchestrapembelajaran.
Hadirkan jannah dalam halaqoh
Pada bagian inilah kita bersama belajar mendahsyatkan diri mutarobbi menjadi murobbi.
Kini engkau menjadi murrobi.
Jadilah murrobi, minimal sekali bagi diri sendiri. Kita mampu mengarahkan orang lain, bila berhasil merefleksikan kebaikan dalam diri kita. Sebab yang pandai berbuat untuk orang lain hanyalah yang pandai berbuat untuk dirinya sendiri, “ bergitu taujih Abdullah bin Wahab.
Setiap masa ada tutunannya masing-masing, ada kadernya masing-masing, tidak bisa dipukul rata. Dakwah yang dahulu dirintis di warung kopi kini mulai merambah memimpin negeri. Akankah terus merangsek menuju puncak prestasi atau kembali ke warung kopi tentu tergantung bagaimana cara kita menyikapi.
Menjadi kader berarti shalih bukan saja untuk dirinya sendiri (shahih ritual) tapi juga shalih sosial, memberi manfaat bagi orang lain. Beda antara mengendarai becak dengan mengendalikan Airbus A300. Risikonya beda. Penumpangnya juga berbeda. Tanggung jawabnya beda, tantangan bahayanya juga beda. Umar bin Khatab berkata ,”Orang yang cerdas bukanlah orang yang dapat membedakan yang baik dan yang buruk, tetapi orang yang berakal adalah orang yang dapat memilih yang lebih ringan dari dua keburukan.”
Tarbiyah adalah taman indah untuk menumbuhkan bunga-bunga ikhwah, mengembangkan potensi ukhuwah menyalurkan kebaikan jadi berkah, menebarkan nan merekah. Sebagaimana komunikasi empati Nabi yang membuat setiap orang merasa sangat dihargai oleh Nabi SAW.
MARHALAH takwin ialah peringkat pembentukan anggota Islam. Tujuan peringkat (marhalah) ini ialah untuk melahirkan mukmin mujahid yang mempunyai kelayakan yang diperlukan bagi memikul amanah Allah iaitu menegakkan Islam di muka bumi. Marhalah takwin mesti dilalui oleh mereka yang membuat keputusan untuk bersama jamaah Islam dan sanggup pula melalui proses pembentukan dan latihan, bersedia meninggalkan perkara haram dan melaksanakan perintah waiib di peringkat individu seperti solat,puasa dan zakat. Mereka inilah orang yang layak untuk meneruskan proses peningkatan kualiti diri sebagai mukmin mujahid yang bakal meneruskan amal Islam setelah melalui proses pembentukan di marhalah takwin. Marhalah takwin adalah satu marhalah yang lebih tinggi daripada marhalah mukmin biasa. Mereka yang bersedia serta terpilih untuk melalui marhalah ini perlu menjalani dan menguasai sekurang-kurangnya empat aspek, iaitu: 1. Tarbiyah Thaqafiyah- pembentukan ilmu dan pengetahuan Pengisian ilmu dan pengetahuanadalah salah satu aspek penting dalam pendidikan Islam.. Ilmu pengetahuan akan melahirkan kefahaman. Justeru dalam Islam tampak jelas hakikat ini dengan turunnya ayat pertama (Iqra') yang melambangkan perintah membaca untuk mendapatkan ilmu dan kefahaman berasaskan sumber yang betul iaitu Allah SWT. Segala ilmu yang ada bersumberkan Allah. Allah memberi akal dan ilmu kepada manusia agar mereka dapat melaksanakan tugas sebagai khalifah dengan menggunakan ilmu pengetahuan yang dikurniakan oleh Allah SWT. Pengasas gerakan Islam abad ke-20, Imam Hasana1Banna meletakkan kefahaman sebagaisyarat pertama baqi seorang mukminmujahid. Ulama Islam telah membahagikan ilmukepada fardu 'ain dan fardu kifayah. Ilmu fardu 'ain ialah ilmu-ilmu asasyang mestidipelajari dan dikuasai oleh setiap individu Muslim seperti konsep Islam, akidah, hukum-hukum syara', bahasa Arab, al-Quran, as-Sunnah dan konsep jahiliah. limu fardu kifayah ialah bidang pengkhususan seperti keiuruteraan dan perubatan. Ilmu fardu kifayah tidak diwajibkan kepada setiap individu tetapi wajib kepada sebilangan tertentu yang sesuai. Anggota pada marhalah ini perlu memilih bidang pengkhususan tertentu atau ditentukan untuk mereka apa-apa pengkhususan yang diperlukan. 2. Tarbiyah Ruhaniyah Aspek kedua yang mesti diialuiialah pendidikan hati atau jiwa. Hati perlu dibersihkan daripada kekotoran dan kekufuran. Hati yang bersih sahaja yang akan mengenali Allah dan beriman serta patuh kepada sistem Allah. Sebaliknya hati yang kotor akan menolaknya. Hati yang kotor mempunyai penyakit dan akan membawa masalah kepada tuannya. Orang yang berilmu tetapi memiliki hati yang keras tidak akan tunduk dan patuh kepada arahan Allah. Oleh itu Allah sangat menuntut supaya setiap mukmin mentarbiyah hati. FirmanNya yang bermaksud: "Dan demi jiwa dan penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan padanya potensi fujur (jahat) dan potensi takwa. Sesunggubnya berjayalah bagi mereka yang menyucikannya dan rugilah mereka yang mengotorinya." 3. Tarbiyah Jasadiyah - Pendidikan Jasmani Aspek jasmani juga adalah satu daripada tuntutan dalam marhalah takwin. Pembentukan yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW adalah bersifat sempurna dan menyeluruh. Seorang Mukmin mujahid mestilah memiliki kemampuan dari segi fizikal untuk melayakkan mereka melaksanakan tugas sebagai khalifah di muka bumi dalam erti kata sebenarnya. 4. Tanzimi Aspek tanzimi ialah satu aspek dalam Islam. Rasulullah SAW menegakkan Islam melalui tanzim atau penyusunan yang rapi.Benarlah kata-kata Saidina Ali: "Kebenaran yang tidak bersistem boleh ditewaskan oleh kebatilan yang bersistem (tersusun rapi ). " Ringkasnya keempat-empat aspek ini mesti dikuasai mereka yang menjalani proses pembentukan di peringkat takwin. Selagi tidak menguasai dan memiliki ciri-ciri yang sebenarnya, seseorang itu tidak mampu untuk melaksanakan tuntutan Islam yang banyak dan mencabar. Akibatnya umat Islam akan menjadi lemah dan terus ditindas.
Until I read this article! Love this article. Good for me. :)
So instead posting it at Fb, I decided to post it here.. hihi..
So here the article !
----------------------------------------
TITLE :
The 'REAL SUPERMAN"
From Writer Name : LanH
Link : http://www.harakahdaily.net/index.php/headline-english/34564-the-real-superman
WHILE visiting one of my daughters at her hostel in UIAM
Kuantan, I noticed 'these beautiful phrases' written on its noticeboard.
* When you have friends, don't expect your friends to
fulfill your emptiness.
* When you get married, don't expect your spouse to fill
your every need.
* When you're an activist, don't put your hope in the
results.
* Don't depend on people.
- Yasmin Mogahed (Writer of 'Reclaim Your Heart -
Best Selling Islamic Book 2013)
Then, to whom we should depend to? As Muslim, we know the
answer is Allah SWT - Creator of all the worlds and universe and of course we
ourselves. But the question is how are we going 'to put into action' His orders
and 'to stay away' from the things that He had forbidden? For example, Allah
SWT through a 'hadith' by the Prophet s.a.w. had asked us not to get angry
easily but how are we going to follow it without having the proper knowledge?
Regarding this matter, I was amazed while listening to a
'tazkirah' by an 'ustaz' (religious teacher) recently when he said 'great
people' are not those who had being bestowed powers or with powers but rather a
person 'who have the power to limit his desires and all sorts of worldly
pleasures'.
It was narrated from Abu Hurairah that the Messenger of
Allah s.a.w. said:
“The strong man is not the one who wrestles others; rather,
the strong man is the one who controls himself at times of anger.” (Imam
Muslim)
That is why we see that people with weak characters suppress
their anger when dealing with their superiors but take it out on those weaker
than them. A weak man will take his frustrations out on his family, a woman on
her children, the rich on the poor.
Giving free rein to one’s anger results only in crime
against Allah’s creatures. It is natural to feel anger in certain situations
but the successful person is he who is able to control the expression of his
anger. Not all crimes in Islam are recognized as crimes in secular law, but
what matters to a Muslim is how their action is viewed by Allah. Anger is justified
when the crime is against Allah and his Messenger, but even then it is best
handled with a cool mind.
Sayidina Ali Abu Talib (radi Allahu anhu) said:
“A moment of
patience in a moment of anger prevents a thousand moments of regret.”
The point here is that 'great individual' or 'superman' if
you wish to call him so, is a person who could control himself of his desires
including his 'nafsu' (nafs). The 'ustaz' went on to elaborate by giving a
simple example regarding the taking of food by an individual. He said when the
food is delicious and our appetite good, then we could finish off plates after
plates of the food and nobody could stop us.
But the 'real superman' is the person who knows when to stop
- perhaps after having 'a small plate of food' he or she concedes that he (she)
had enough...'subhanallah' (Glory be to Allah SWT) it is a very difficult thing
to do.
Remember, a person who does not moderate his eating and
drinking would be exposed to greed which would have the effect of spoiling his
body and health.
A Muslim is ordered to eat and drink, making sure he does
not waste or exceed the right limit for Allah SWT said:
"...and eat and
drink but waste not by extravagance,..." (Qur'an 7:31),
do not eat and
drink what is harmful, especially if it is forbidden and to eat and drink
moderately.
Prophet Muhammad s.a.w. in a 'hadtih' said: "Man has
not filled a container worse than his stomach; he should be satisfied with a
few bites to survive. However, if his appetite beats him, let it be a third (of
his stomach space) for his food and a third for his drink and a third for his
breath." (Ahmad)
The 'ustaz' then went to tell his audience the story of
Talut (Saul) who took his army through a series of tests in order to assure
that his fighting force was made up only of pious yet strong willed men. From
an initial recruitment of 80,000, the army that faced Jalut (Goliath) and the
Philistines was a mere 300.
One of the test was a decree by Talut that when his army
passed by a river, they could only quench their thirst by taking only 'a scoop'
of water with their bare hands but obviously the majority of his men failed.
Yes, there was much water; the undisciplined ones drank as much they could,
then they became heavy and could not continue their journey and mission.
When the two armies came face to face, Jalut challenged any
man from Talut army to single, mortal combat, but the only volunteer was a
small, agile youth named Daud (David). When it became clear to Talut that no
other man was willing to volunteer, he gave the young Daud permission to face
the giant Jalut. Jalut roared with laughter at the sight of the small youth,
and even Talut's own army looked incredulously at the sight.
But it was Daud who came out winner. He was a 'superman'.
Jalut was killed and later on the young Daud became the new king. He was none
other than Prophet Daud a.s. The Qur'an says: “So they routed them by Allah’s
leave and Daud killed Jalut, and God gave him (Daud) the kingdom and
Prophethood, and taught him of that which He willed. And if Allah did not check
one set of people by means of another, the earth would indeed be full of
mischief. But Allah is full of Bounty to mankind and all that exists.” (Qur'an
2:251)
The 'ustaz' reminded his audience that each and every one of
us must have limitations in our action (doings). From the story of Talut, Jalut
and Daud; we could learned something - for example 'to be great' we must have
disciplined in ourselves. Of course, it is hard to do so, but we must have the
'muhajadah' (struggle in rejecting vicious desires).
For Muslims the third article in 'Rukun Islam' that is
fasting helps us in controlling our desires; one example is regarding food or
drink. Consumption of these items are 'haram' (forbidden) during the stipulated
time even though they are 'our own and halal belongings'. During Ramadan we are
put on test - food and drinks cannot be taken during the day - and during
breaking of fast, we too we told not to be a gluttonous - yes please control
ourselves.
Other than 'to limit or check ourselves' in taking food and
drinks, it is also required to be rational in everything we do for example when
we go shopping. True it is your money and you could follow the Western concept
of shopping that is 'shop till you drop' but again as a Muslim we should check
again what Islam tells us about spending our money.
Yes dear readers, be rational in buying. For example buying
clothes, furniture, and luxury that are not necessary is waste of money. Buy if
you have or need to do them because Islam forbids stinginess but you must know
the difference between economy and stinginess which the religion forbids.
To parents, be moderates in bringing up our children. Don't
be too harsh or to lenient. Follow the Islamic way of bringing them up. You are
allowed to use the cane, but please know and observe the 'limit'. You don't
just cane your child just to 'lepas geram' (releasing your anger ) but do it in
the name of Allah SWT, then you would know when to begin and to stop it. Yes,
know the limitation.
'Subhanallah', dear readers; Islam teaches us to be moderate
in everything we do - it is called 'wasatiyah' - choosing to be in the middle
of each and every consequences. But the problem among some of us today
especially among our leaders are that when they called for the 'wasatiyah' way
of living, they are the ones including their wives do things such as spending
money (including public money) like there is no tomorrow and the saddest part
of it - like their own hard-earned money! – ES
Jika ditanya pada ku,
kakak sulung mu..
apa istimewanya kamu ?
Akan ku dahulukan dengan senyuman ..
dan ku jawab ; dia PELENGKAP keluarga kami ..
dan senyuman ku akan terus melebar..
sambil terbayang pelbagai keletahnya..
Dan ku sambung terus jawapan ku..
dengan yakin aku gelarkan dia "PENCERIA" keluarga kami
Sejak dari kecil,
dia selalu berjaya buat kami tersenyum..
dari segi keletah dan akhlaknya..
Kadang suasana tegang menyapa..
InshaAllah, Tak mengapa! Super ceria kami ada ^_^
Meski kadang gara-gara dia juga keadaan menjadi tegang.. :D
Namun suasana itu bukanlah berterusan..
dengan merendah diri, dia meminta maaf..
Berjaya lagi dia buatkan kami tersenyum!
Dan terus..
dia selalu berjaya buat kami tersenyum..
dengan pencapaiannya yang selalu kami gelarkan "advance"
dari segi pemikirannya..
dari segi soalannya..
selalu sahaja menjadikan kami tertanya kembali.. ? hihi
dan tak mengapa..
soalannya ada kewajaran untuk dijawab..
dan selalunya aku akan berusaha berikan jawapan,
meski sebenarnya.. itulah jawapan "cuba-jaya" ku
dan jika tidak berjaya..
aku minta "masa tambahan" ..
perlu dirujuk pada yang lebih berilmu..
dan Alhamdulillah, dia seorang yang bertimbang rasa,
dia bersetuju, tanpa respon balas mengejek ku..
dia percaya aku akan berusaha mendapatkan jawapan itu.
dia percaya ada jawapan bagi setiap soalannya :D
Ya, Berjaya lagi dia buatkan kami tersenyum!
Dan terus..
dia berjaya buat kami tersenyum..
dari segi pencapaian akademiknya..
Yang selalu menjadi "kejutan" buat kami..
dan bagi ku yang dapat juga melihat usahanya , meski tak selalu..
ku lafazkan
"Alhamdulillah, rezeki yang layak untuknya"
dan selalu kepercayaan ku padanya ; ada.
atau jika tidak..
aku ajarkan caranya bagaimana untuk mendapatkan kepercayaan ku,
agar kembali.. aku percaya padanya
Atas sebab ku kenal dia sejak lahirnya..
dan Alhamdulillah.. tidak mengurangkan nikmat ku sekeluarga..
bahkan mengindahkan hari-hari kami sekeluarga..
Ya,
dia berjaya lagi dia buatkan aku tersenyum!
Tersenyum pada kurnian Allah,
Alhamdulillah..
yang unik , yang berbeza..
yang ada pada kami sekeluarga..
Hari ini..
apabila dia meningkat dewasa,
dan jika ditanya pada ku,
"Mungkinkah senyuman itu akan terukir pada wajah ku.. ?"
InshaAllah ya! Akan ku dahulukan dengan senyuman ..
dan ku jawab ; dia PELUANG keluarga kami..
Jika ada keletahnya tak seindah yang kami harapkan..
(Salahnya juga.. sebab dari kecil selalu buat kami gembira.. hingga harapan kami padanya selalu terbina.hihi )
Adalah tidak adil untuk aku bersedih atau kecewa,
kerana aku yakin...
dia sedang dalam prosesnya untuk membuatkan kami lebih tersenyum.. ^-^
dia sedang melalui proses sukarnya ..
dalam memberikan "kejutan gembira" pada kami..
dia sedang memberikan kami masa,
untuk membantunya agar dapat menjawab persoalan-persoalan dalam hidupnya..
maka
Untuk itu adik,
Senyumlah pada kehidupan mu.
Senyumlah pada yang memberi kehidupan ini.
Dia tak pernah berikan yang terburuk untuk mu.
Selalu baik-baik sahaja.
Ia kehidupan Hadiah Allah buat mu :)
Engkau hadiah Allah pada kami sekeluarga.
Baik-baik dik lalui kehidupan ini.
Lalui titian sabar dan syukur
Ada jalan istiqamah yang perlu kau tempuh
Dan itu juga jalan yang sama untuk kakak mu lalui..
1.Apabila mendengar azan maka bangunlah sembahyang serta-merta walaubagaimana keadaan sekalipun.
2.Bacalah al-Quran, tatapilah buku-buku ilmu, pergilah k e majlis-majlis ilmu, dan amalkanlah zikrullah dan janganlah membuang masa dalam perkara yang tiada memberi faedah.
3.Berusahalah untuk bertutur dalam bahasa Arab kerana bahasa Arab yang betul itu adalah satu-satunya syiar Islam
4.Janganlah bertengkar dalam apa-apa perkara sekalipun kerana pertengkaran yang kosong tiada memberi apa-apa jua kebaikan
5.Janganlah banyak ketawa kerana hati yang sentiasa berhubung dengan Allah itu sentiasa tenang lagi tenteram
6.Janganlah banyak bergurau kerana umat yang sedang berjuang itu tidak mengerti melainkan bersungguh-sungguh dalam setiap perkara.
7.Janganlah bercakap lebih nyaring daripada kadar yang yangnyaring itu adalah suatu resmi yang sia-sia malah menyakiti hati orang
8.Jauhilah daripada mengumpat-umpat peribadi orang, mengecam pertubuhan-pertubuhan, dan janganlah bercakap melainkan apa- apa yang memberi kebajikan
9.Berkenal-kenalanlah dengan setiap Muslimin yang ditemui kerana asas gerakan dakwah kita ialah berkenal-kenalan dan berkasih-sayang
10.Kewajipan-kewajipan kita lebih banyak daripada masa yang ada pada kita, oleh itu gunakanlah masa dengan sebaik-baiknya dan ringkaskanlah perlaksanaannya........