Ahad, Mac 20, 2016

Aku juga ingin beribadah di sana.

Tapi aku yakin..
Engkau Maha Indah dalam ketentuan.

Aku syukur dan redha atas nikmat yang Engkau rezekikan.
Bukan wang dan manusia yang mengizinkan aku beramal..
Tapi semua dengan rahmat izin Mu.. ^_^

InshaAllah
-------------------
HALAL BUAT KAMI, HARAM BUAT TUAN

Ulamak Abu Abdul Rahman bin Abdullah Al-Mubarak Al-Hanzhali Al-Marwazi, seorang ulamak yang termahsyur di Makkah  menceritakan kisah ini.

Suatu ketika, selepas selesai salah satu ritual haji, beliau berehat dan tidur. Dalam mimpinya beliau melihat dua malaikat turun dari langit, dia terdengar perbualan mereka, "Berapa ramai jemaah yang datang pada tahun ini?" Tanya malaikat itu kepada para malaikat lain.

"Tujuh ratus ribu," jawab malaikat yang satu lagi.

"Berapa ramai orang-orang yang diterima hajinya itu?"

"Tiada satu pun"

Perbualan itu membuat Abdullah gementar ketakutan, "Apa?" Dia menangis dalam mimpi.

"Semua orang-orang ini datang dari belahan bumi yang jauh, dengan susah payah dan keletihan sepanjang jalan, mengembara melalui padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka sia-sia?"

Walaupun dengan rasa takut, dia terus mendengar cerita kedua malaikat tersebut.

"Namun ada seorang lelaki yang walaupun dia tidak datang untuk menunaikan haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan semua dosanya telah diampunkan. Diatas keberkatan daripada lelaki itu, seluruh haji para jemaah diterima oleh Allah. "

"Bagaimana ia boleh terjadi begitu?"

"Itu adalah kehendak Allah"

"Siapakah orang tersebut?"

"Sa'id bin Muhafah, tukang kasut di kota Damsyik"

Mendengar ucapan itu, ulamak itu terus terjaga. Pulang daripada haji, dia tidak terus balik ke rumah, tetapi beliau pergi ke kota Damsyik, Syria.

Sampai di sana, beliau terus pergi ke tukang kasut yang disebut oleh malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang-tukang kasut dia bertanya, apakah benar ada tukang kasut yang bernama Sa'id bin Muhafah.

"Di sana, di pinggir bandar", kata seorang tukang kasut sambil menunjukkan arahnya. Apabila di sana, ulamak tersebut menemui seorang tukang kasut yang berpakaian lusuh.

"Adakah benar anda bernama Sa'id bin Muhafah?", tanya Ulamak

"Betul, siapakah tuan?"

"Saya Abdullah bin Mubarak"

Said terharu, "Tuan adalah ulama yang terkenal, kenapa tuan datang mencari saya?"

Sejenak ulamak itu agak terkeliru, di mana beliau ingin memulakan soalan, akhirnya beliau memberitahu perihal mimpinya itu.

"Saya ingin tahu, adakah apa-apa yang anda telah buat, sehingga anda layak mendapat pahala haji mabrur?"

"Wah! saya sendiri tidak tahu!"

"Beritahu saya bagaimana kehidupan anda selama ini".

Sa'id bin Muhafah kemudian teringat, "Setiap tahun, setiap musim haji, saya selalu mendengar: Labbaika Allhuma labbaika....Labbaika la syarika laka labbaika... innal hamda...Wanni'mata... Laka wal mulka... La syarika laka...

Ya Allah, aku datang kerana panggilan -Mu. Tiada sekutu bagi -Mu. Segala pujian dan nikmat adalah kepunyaan-Mu dan kekuasaan-Mu. Tiada sekutu bagi -Mu.

Setiap kali aku mendengarnya, aku sentiasa menangis "Ya Allah aku rindu Mekah ... Ya Allah aku rindu melihat ka'abah ... Izinkan aku datang ... Izinkan aku datang, ya Allah ..."

Oleh kerana itu, sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu setiap hari saya mengenepikan sedikit wang dari hasil kerja saya sebagai tukang kasut. Sedikit demi sedikit, saya kumpulkan. Akhirnya, tahun ini, saya mendapat 350 dirham, cukup untuk haji saya.

"Saya sudah bersiap-sedia untuk berangkat menunaikan haji"

"Tetapi anda batalkan?"

"Benar"

"Apa yang berlaku?"

"Isteri saya mengandung, dan sering mengidam. Ketika saya hendak berangkat pergi saat itu isteri saya terlalu ngidamkan sesuatu  "

"Abang, awak terhidu bau masakan yang sedap ini?

"Ya sayang"

"Cubalah abang cari, siapakah yang memasak sehingga baunya lazat begini. Mintalah sedikit untuk saya "

"Tuan, saya mencari sumber bau masakan itu, ia datang dari sebuah pondok buruk berhampiran. Disitu terdapat seorang balu dan enam orang anaknya."

Saya memberitahunya bahawa isteri saya mahu masakan yang dia masak, walaupun sedikit.  Ibu tunggal itu diam melihat saya, sehingga saya mengulangi kata-kata saya.

Akhirnya dengan perlahan dia berkata, "Tidak boleh tuan"

"Saya sanggup membeli walau dengan harga yang tinggi," kata saya tegas

"Makanan ini bukan untuk dijual, tuan," katanya sambil berlinang air mata.
Saya bertanya kena
pa?

Sambil menangis, wanita itu berkata, "Ini adalah daging halal untuk kami dan haram untuk tuan," katanya.

Dalam hati saya, "Bagaimana halal baginya, tetapi ia adalah haram untuk saya, padahal kita sama-sama Muslim?  Kerana itu, saya menggesa beliau lagi, "Kenapa?"

"Sudah beberapa hari kami tidak makan. Di rumah tidak ada makanan. Hari ini kami ternampak seekor keldai mati, dan kemudian kami mengambil sebahagian dagingnya untuk dimasak "

"Bagi kami ini adalah daging yang halal, kerana jika kami tidak memakannya kami akan mati kebuluran. Tetapi bagi Tuan, daging ini haram".

Mendengar kata-kata wanita itu, saya terus menangis, lalu saya pulang ke rumah.

Saya memberitahu isteri saya mengenai kejadian itu, dia pun menangis, kami akhirnya memasak makanan dan pergi ke rumah wanita itu tadi.

"Ini masakan untuk kamu"

Peruntukan wang haji sebanyak 350 dirham telah saya berikan kepada mereka.

"Gunakan wang ini untuk puan dan keluarga puan. Gunakanlah ia untuk modal berniaga, supaya puan sekeluarga tidak lapar lagi"

Ya Allah ... disinilah Hajiku ...by
Ya Allah...  disinilah Mekahku ...

Mendengar kisah tersebut Abdullah bin Mubarak tidak dapat menahan air mata.

Fikirkanlah bagi orang yg pergi berpuluh puluh kali Haji tapi bakhil....dimana tempatnya...sedangkan dlm masa yg sama berapa ramai lagi umat Islam yang memerlukan...

Sesungguhnya Allah s.w.t sentiasa dekat dgn kita

Sabtu, Februari 20, 2016

Inspirasi

Surah Al-Ankaboot, Verse 27:
وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ وَآتَيْنَاهُ أَجْرَهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

Dan Kami anugrahkan kepda Ibrahim, Ishak dan Ya'qub, dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia; dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.

MashaAllah.

Nikmatnya... Allahu Akhbar..

Isnin, Februari 01, 2016

New Quantum Tarbiyah & Marhalah Takwin (pembentukan)

new quantum tarbiyah

Murobbi adalah seorang guru atau pendidik. Ia mengajarkan Al Qur’an, hadits, dan kitab memberi suplai ilmu, memberikan wawasan baru sehingga murid-murid merasa tentram bersamanya. Serta seseorang murobbi berarti dia merupakan jejak pewaris Nabi, karena Nabi mengajarkan Islam dengantarbiyah. Jadi saatnya bersama menggelorakan jiwa mencetak kader serba bisa, mengubah potensi jadi prestasi, mengubah energi menjadi cahaya, mengubah ide menjadi karya, mengubah impian menjadi kenyataan.
Imam Hasan al-Banna merumuskan sasaran dakwah yang beliau dakwah dari warung kopi, bukan di mimbar masjid atau di kursi empuk parlemen.
Dari Kondisi keterbatasan itulah optimism dan gagasan besar dibangun
Dari orang biasalah dakwah bermula.
Membangun tarbiyah sebagai aktivitas yang lebih menyenangkan dari pada aktivitas yang lain. Agar indah bagai di jannah penuh bunga nan merekah. Hadir dengan wajah sumringah. Sampaikan nasihat dengan ikhlas agar dahsyat dan menggugah. Hemat berkata-kata agar tidak merusak ukhuwah. Tebarkan senyuman tulus tanpa menyimpan ghibah. Yang besar bukanlah dimulai dari yang besar, namun dimulai dari yang hal-hal kecil yang dilakukan dengan kesungguhan dan cinta. Cinta itulah ruh perubahan, cinta itulah yang menghilangkan segala rasa sakit. Sering kali hal-hal yang dianggap kecil berakibat penyesalan besar bila diremehkan.
Global Thinking
Bagian ini merupakan kabar gembira buat pegiat tarbiyah untuk mendapatkan “Parcel khusus dari Allah”. Ini merupakan spiritualitas tarbiyah dan amunisi agar rajin ngaji, yakni mendapatkan “Bidadari Edisi Spesial” plus bonus “ Agar Bidadari Naksir Padamu, Mau ?” Bangkitlah, sadarlah kita tengah melaju di jalan yang besar menuju padang mahsyar.
Kontrak tarbiyah
Belajar mesti dengan kesepakatan. Kontrak tarbiyah adalah energi. Energi “janaji” sebagai inspirasi berprestasi.
Spirit yang hilang
Ini inspirasi yang teserak di sana–sini untuk mengembalikan spirit tarbawi. Banyak kabar tak sedap ketika kader mulai terlelap dalam khilaf, tersesat dalam maksiat, ternoda dengan dosa, dan akhiratnya tersesat ke penjara dunia maupun neraka akhirat.
Breaking the limit
Pecahkan kebekukanmu dengan mungubah paradigma. Bila kita tidak bisa mengubah keadaan, ubahlah cara kita menghadapinya.
New Quantum tarbiyah
Menghadirkan gairah tarbiyah dengan mengemas secra baru dan jitu sepanjang waktu.
Kader dahsyat full manfaat.
Kader adalah asset pergerakan, motor perubahan, inspirator sekaligus konduktor dalam orchestrapembelajaran.
Hadirkan jannah dalam halaqoh
Pada bagian inilah kita bersama belajar mendahsyatkan diri mutarobbi menjadi murobbi.
Kini engkau menjadi murrobi.
Jadilah murrobi, minimal sekali bagi diri sendiri. Kita mampu mengarahkan orang lain, bila berhasil merefleksikan kebaikan  dalam diri kita. Sebab yang pandai berbuat untuk orang lain hanyalah yang pandai berbuat untuk dirinya sendiri, “ bergitu taujih Abdullah bin Wahab.
Setiap masa ada tutunannya masing-masing, ada kadernya masing-masing, tidak bisa dipukul rata. Dakwah yang dahulu dirintis di warung kopi kini mulai merambah memimpin negeri. Akankah terus merangsek menuju puncak prestasi atau kembali ke warung kopi tentu tergantung bagaimana cara kita menyikapi.
Menjadi kader berarti shalih bukan saja untuk dirinya sendiri (shahih ritual) tapi juga shalih sosial, memberi manfaat bagi orang lain. Beda antara mengendarai becak dengan mengendalikan Airbus A300. Risikonya beda. Penumpangnya juga berbeda. Tanggung jawabnya beda, tantangan bahayanya juga beda. Umar bin Khatab berkata ,”Orang yang cerdas bukanlah orang yang dapat membedakan yang baik dan yang buruk, tetapi orang yang berakal adalah orang yang dapat memilih yang lebih ringan dari dua keburukan.”
Tarbiyah adalah taman indah untuk menumbuhkan bunga-bunga ikhwah, mengembangkan potensi ukhuwah menyalurkan kebaikan jadi berkah, menebarkan nan merekah. Sebagaimana komunikasi empati Nabi yang membuat setiap orang merasa sangat dihargai oleh Nabi SAW.


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

    TUNTUTAN MARHALAH 
    TAKWIN
    MARHALAH takwin ialah peringkat pembentukan anggota Islam.  Tujuan peringkat (marhalah) ini ialah untuk melahirkan mukmin mujahid yang mempunyai kelayakan yang diperlukan bagi memikul amanah Allah iaitu menegakkan Islam di muka bumi.
    Marhalah takwin mesti dilalui oleh mereka yang membuat keputusan untuk bersama jamaah Islam dan sanggup pula melalui proses pembentukan dan latihan, bersedia meninggalkan perkara haram dan melaksanakan perintah waiib di peringkat individu seperti solat, puasa dan zakat.  Mereka inilah orang yang layak untuk meneruskan proses peningkatan kualiti diri sebagai mukmin mujahid yang bakal meneruskan amal Islam setelah melalui proses pembentukan di marhalah takwin.

    Marhalah takwin adalah satu marhalah yang lebih tinggi daripada marhalah mukmin biasa.  Mereka yang bersedia serta terpilih untuk melalui marhalah ini perlu menjalani
    dan menguasai sekurang-kurangnya empat aspek, iaitu:

    1. Tarbiyah Thaqafiyah - pembentukan ilmu dan pengetahuan
    Pengisian ilmu dan pengetahuan adalah salah satu aspek penting dalam pendidikan Islam.. Ilmu pengetahuan akan melahirkan kefahaman.  Justeru dalam Islam tampak jelas hakikat ini dengan turunnya ayat pertama (Iqra') yang melambangkan perintah membaca untuk mendapatkan ilmu dan kefahaman berasaskan sumber yang betul
    iaitu Allah SWT.

    Segala ilmu yang ada bersumberkan Allah.  Allah memberi akal dan ilmu kepada manusia agar mereka dapat melaksanakan tugas sebagai khalifah dengan menggunakan ilmu pengetahuan yang dikurniakan oleh Allah SWT. Pengasas gerakan Islam abad
    ke-20, Imam Hasan a1Banna meletakkan kefahaman sebagai syarat pertama baqi
    seorang mukmin mujahid.  Ulama Islam telah membahagikan ilmu kepada fardu 'ain
    dan fardu kifayah. Ilmu fardu 'ain ialah ilmu-ilmu asas yang mesti dipelajari dan dikuasai oleh setiap individu Muslim seperti konsep Islam, akidah, hukum-hukum syara', bahasa Arab, al-Quran, as-Sunnah dan konsep jahiliah. limu fardu kifayah ialah bidang pengkhususan seperti keiuruteraan dan perubatan. Ilmu fardu kifayah tidak diwajibkan kepada setiap individu tetapi wajib kepada sebilangan tertentu yang sesuai.  Anggota pada marhalah ini perlu memilih bidang pengkhususan tertentu atau ditentukan untuk mereka apa-apa pengkhususan yang diperlukan.

    2. Tarbiyah Ruhaniyah
    Aspek kedua yang mesti diialui ialah pendidikan hati atau jiwa.  Hati perlu dibersihkan daripada kekotoran dan kekufuran.  Hati yang bersih sahaja yang akan mengenali Allah dan beriman serta patuh kepada sistem Allah.  Sebaliknya hati yang kotor akan menolaknya.  Hati yang kotor mempunyai penyakit dan akan membawa masalah kepada tuannya.  Orang yang berilmu tetapi memiliki hati yang keras tidak akan tunduk dan patuh kepada arahan Allah.  Oleh itu Allah sangat menuntut supaya setiap mukmin mentarbiyah hati.  FirmanNya yang bermaksud:
    "Dan demi jiwa dan penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan padanya potensi fujur (jahat) dan potensi takwa. Sesunggubnya berjayalah bagi mereka yang menyucikannya dan rugilah mereka yang mengotorinya."

    3. Tarbiyah Jasadiyah - Pendidikan Jasmani
    Aspek jasmani juga adalah satu daripada tuntutan dalam marhalah takwin.  Pembentukan yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW adalah bersifat sempurna dan menyeluruh.  Seorang Mukmin mujahid mestilah memiliki kemampuan dari segi fizikal untuk melayakkan mereka melaksanakan tugas sebagai khalifah di muka bumi dalam erti kata sebenarnya.

    4. Tanzimi
    Aspek tanzimi ialah satu aspek dalam Islam.  Rasulullah SAW menegakkan Islam melalui tanzim atau penyusunan yang rapi. Benarlah kata-kata Saidina Ali:
    "Kebenaran yang tidak bersistem boleh ditewaskan oleh kebatilan
    yang bersistem (tersusun rapi ). "

    Ringkasnya keempat-empat aspek ini mesti dikuasai mereka yang menjalani proses pembentukan di peringkat takwin.  Selagi tidak menguasai dan memiliki ciri-ciri yang sebenarnya, seseorang itu tidak mampu untuk melaksanakan tuntutan Islam yang banyak dan mencabar.  Akibatnya umat Islam akan menjadi lemah dan terus ditindas.

Isnin, Oktober 05, 2015

Lovely Du'a for parents / Doa Terindah Untuk Ibu Bapa Kita

In the name of Allah, the Source of Mercy to all of creation
Oh Source Of All Mercy To All Of Creation,
Allahumma salli ala muhammad

Our parents, our fathers and mothers.
Though they're not nearly as perfect as Our Prophet's,
Though they're subject to wrong, and the wages of sin,
We beg You for Mercy, By The Grace Of This Prayer.
Please grace them with blessings.

Oh Source Of All Mercy To All Of Creation,
Allahumma salli ala muhammad

Move us through knowledge to think, say and do
Towards mother and father what surely is due,
By The Rules Of What's Right That Were Laid Down By You,

Oh Source Of All Rightness And All That Is True.

Perfect every defect in our duty towards them.
Don't let us grow weary in spirit or limb...
Not too lazy, too weak, too bored nor too tired
To dutifully act as Your Knowledge Inspired
By the dignified spirit our persons acquired

Allahumma salli ala muhammad

Oh Allah! 
With The Grace That This Light Of Muhammad
Make me respect my folks' rule as one would a king,
And love them with the love of a mother's heart-string.
Make my taste for obeying them a most pleasant thing
More precious to me than a grand diamond ring.
Make me want to obey them like obeying them is a thirst
That can only be quenched by putting their wishes first
prioritizing their will over my will, and their needs over mine…
Realizing this relationship is God's Cosmic Design.

So let me express that when I assess even the small good they've done for me,
What they chose to invest is the best, most blessed, manifest magnanimity
Compared to the seemingly big things that I've managed to do for them,
Which is comparatively fluff, but not enough... rather light-weight and super slim.

Oh Allah!
Move me to lower my voice when my parents are near.
Make their presence a remembrance that You are the Domineer.
Make my words warm them with tones sweet and sincere, 
Using soft words, and phrases that are pleasant to hear,
Never loud, rude nor angry, and not cavalier
Always love-filled… respectful... with reverent good cheer
A tone that be speaks that their presence is dear.
Make me soft towards my parents with all of my heart.
Make my parents my companions with whom I won't part.
Friends to The End In Love Ever More,
The source of my life whom I'll always adore.

Oh Allah!
Give them a great gratuity for their most gracious Care
Their ingenuity In rearing me, and for just being there.
And watch over them... as they watched over me
Throughout my needy vulnerability in the helplessness of my infancy.

Oh Allah!
Whatever pain has touched my parents through my omission or commission,
Whatever displeasure I caused them through my lack of submission,
Whatever duty I neglected which would have improved their condition,
Count all the burdens I've laid on them as sincere acts of contrition
Which will make them ultimately free from Your Infernal Perdition.

Oh You Who Turns Wrong Views away from Right States of Mind,
Whatever my folks said to me that was unjust or unkind,
Whatever they did to me that was way out of line,
Whatever right which they trampled or chose to decline,
Whatever debt that they still owe me after the final deadline, 
Through careless mismanagement or wrong-headed design
I forgive and remit every consequent fine.

To my parents' possession I henceforth consign
Everything that they owe me of the debt You assigned. 
Thus their debts are wiped clean on The Last Bottom Line.
For I have no wish, nor cause to indict them for harming me in any way, 
Neither by omission or commission have they caused me dismay.

So Oh Lord Who Guides The Guided
And Calls Those Astray!
I wish not to pursue a petition to sue my parents now or on The Deyn's Day.
Their claims upon me are much more intense.
Because the good they have done for me is so right and immense, 
I can't ever begin to pay them an appropriate recompense.

Oh my God, Lord Of The Heavens And Lord Of The Earth!
What can I pay them that's equal in worth
For taking the God-chosen role and being the means of my birth?
What's worthy as a wage for rearing me in the best way that they could…
For the long, hard, self-sacrificial task of nurturing me through the helplessness of infancy, and the difficulties of childhood.

The very thought is ridiculously absurd. Unquestionably, I cannot.
I cannot even repay them for what they've done that I've forgotten.
I can never repay my parents. I owe an indelible, all-encompassing debt.
I'm duty-bound to serve them long as winter ice is cold and spring time rain is wet.
So Allah, Bless Muhammad's Soul
.
Oh You for Whom Helping Is the Most Famous Role
Please Give Us Your Help 
Oh Best Of All Helpers Whom Eyes Can't Behold
Oh Greatest Guide Whom We Turn To For Perfect Assistance
On The Day Of The Deyn Which None Can Out Distance,

Don't place me with those who dishonored their parents with bratty resistance, 
When Each Soul Will Be Fined Or Paid Their Promised Recompense
When Souls Will Reap What They Sowed… The Ultimate Consequence.
So Oh Allah, Bless Muhammad's Soul 

And reward my mother and father with a great commendation
Like Mukmin parents are favored in each Dispensation 
Of Father Ibrahim Khaleelul Lah's Blessed Mukmin Nation,

And Help Me, Oh Loving Helper In Each Situation, 
Oh One Whose Folks Pray To In Awed Supplication.
Oh Merciful Creator Of the Heavens And the Earth,
Whose Word Becomes Flesh And Enters Through Birth,
Make me remember my parents after each prayer
In day time or night time… anytime, everywhere.
Allahumma salli ala muhammad

For the sake of my prayer for them pardon me,
So that consequently my prayer is more worthy.
And for the sake of the good they have done for me
Give them Everlasting Peace, and Security.

Please grace my parents with Your Pleasure And Purity. 
Through my intercession make Your Pleasure A Surety.
And if You've already forgiven them before this du'a was prayed,
Make their plea for me be an un-passable blockade
That keeps me from hell which Man's Evil Has Made

Then we can gather together
In Your Most Clement Presence Forever And Ever
With Our Mothers And Fathers In A Bond That Won't Sever,
Where's there's no remorse, strife nor grief… no evil whatsoever.

Surely Yours Is A Rich Boundless Treasure, Impossible To Measure
And Your Generosity Spans Eternity – No Beginning And No End
And You Are The Merciful Source Of All Mercy… The Most Formidable Ally.
The Most Valued Friend.
Allahumma salli ala muhammad

edit from source : http://www.erfan.ir/english/24386.html

Beautiful Song :
Song of experience- with full lyrics.


Rabbanaghfir warhamhuma kama rabbayaani sagheera //
Through the window of my eyes
Memories of being a child
I was never afraid when
You were by my side
And I grew without a care
Knowing you were always there
To protect me, to raise me

Oh my father dear
How I rely on your strength and your wisdom
Your calm patient guidance
Your kind loving gaze……

Lord let whatever I’ve done that has pleased you
Rain down like blessings and mercy on them

Rabbanaghfir warhamhuma kama rabbayaani sagheera //

What would I be if not for you?
Teaching me how to live and grow
Now I can only hope
That I have made you proud
Oh how little thanks e show
To our lord who has bestowed
Parents who’d sacrifice for us
Heart breath and more

How I rely on your strength and your…..
Now I understand I’ve grown into a man
The cares that must have burdened you
The fierce love you had
And deep within and as I gaze into the children’s eyes
Its only now o father that I truly realize

How I rely on your strength……….
Oh if I ever caused you grief
Then I ask you forgive me
For the sake of the one
Sent to all as a mercy
How the days and seasons fade
I have grown into say

That to thank you i have no one thing to say
I still rely on your strength and your wisdom….
Rabbanaghfir warhamhuma kama rabbayaani sagheera //

Ahad, Mei 24, 2015

The 'REAL SUPERMAN"

Assalamu'alaikum,

It's me, Alhamdulillah.. Still here. ^_^
But almost forgot about you dear blog..
So sorry.

Until I read this article! Love this article. Good for me. :)
So instead posting it at Fb, I decided to post it here.. hihi..

So here the article !
----------------------------------------

TITLE : 
The 'REAL SUPERMAN"
From Writer Name : LanH
Link : http://www.harakahdaily.net/index.php/headline-english/34564-the-real-superman


WHILE visiting one of my daughters at her hostel in UIAM Kuantan, I noticed 'these beautiful phrases' written on its noticeboard.
* When you have friends, don't expect your friends to fulfill your emptiness.
* When you get married, don't expect your spouse to fill your every need.
* When you're an activist, don't put your hope in the results.
* Don't depend on people.
- Yasmin Mogahed (Writer of 'Reclaim Your Heart - Best Selling Islamic Book 2013)



Then, to whom we should depend to? As Muslim, we know the answer is Allah SWT - Creator of all the worlds and universe and of course we ourselves. But the question is how are we going 'to put into action' His orders and 'to stay away' from the things that He had forbidden? For example, Allah SWT through a 'hadith' by the Prophet s.a.w. had asked us not to get angry easily but how are we going to follow it without having the proper knowledge?





Regarding this matter, I was amazed while listening to a 'tazkirah' by an 'ustaz' (religious teacher) recently when he said 'great people' are not those who had being bestowed powers or with powers but rather a person 'who have the power to limit his desires and all sorts of worldly pleasures'.

It was narrated from Abu Hurairah that the Messenger of Allah s.a.w. said: 
“The strong man is not the one who wrestles others; rather, the strong man is the one who controls himself at times of anger.” (Imam Muslim)



That is why we see that people with weak characters suppress their anger when dealing with their superiors but take it out on those weaker than them. A weak man will take his frustrations out on his family, a woman on her children, the rich on the poor.


Giving free rein to one’s anger results only in crime against Allah’s creatures. It is natural to feel anger in certain situations but the successful person is he who is able to control the expression of his anger. Not all crimes in Islam are recognized as crimes in secular law, but what matters to a Muslim is how their action is viewed by Allah. Anger is justified when the crime is against Allah and his Messenger, but even then it is best handled with a cool mind.


Sayidina Ali Abu Talib (radi Allahu anhu) said:
 “A moment of patience in a moment of anger prevents a thousand moments of regret.”


The point here is that 'great individual' or 'superman' if you wish to call him so, is a person who could control himself of his desires including his 'nafsu' (nafs). The 'ustaz' went on to elaborate by giving a simple example regarding the taking of food by an individual. He said when the food is delicious and our appetite good, then we could finish off plates after plates of the food and nobody could stop us.






But the 'real superman' is the person who knows when to stop - perhaps after having 'a small plate of food' he or she concedes that he (she) had enough...'subhanallah' (Glory be to Allah SWT) it is a very difficult thing to do.



Remember, a person who does not moderate his eating and drinking would be exposed to greed which would have the effect of spoiling his body and health.


A Muslim is ordered to eat and drink, making sure he does not waste or exceed the right limit for Allah SWT said: 
"...and eat and drink but waste not by extravagance,..." (Qur'an 7:31),
 do not eat and drink what is harmful, especially if it is forbidden and to eat and drink moderately.


Prophet Muhammad s.a.w. in a 'hadtih' said: "Man has not filled a container worse than his stomach; he should be satisfied with a few bites to survive. However, if his appetite beats him, let it be a third (of his stomach space) for his food and a third for his drink and a third for his breath." (Ahmad)


The 'ustaz' then went to tell his audience the story of Talut (Saul) who took his army through a series of tests in order to assure that his fighting force was made up only of pious yet strong willed men. From an initial recruitment of 80,000, the army that faced Jalut (Goliath) and the Philistines was a mere 300.


One of the test was a decree by Talut that when his army passed by a river, they could only quench their thirst by taking only 'a scoop' of water with their bare hands but obviously the majority of his men failed. Yes, there was much water; the undisciplined ones drank as much they could, then they became heavy and could not continue their journey and mission.


When the two armies came face to face, Jalut challenged any man from Talut army to single, mortal combat, but the only volunteer was a small, agile youth named Daud (David). When it became clear to Talut that no other man was willing to volunteer, he gave the young Daud permission to face the giant Jalut. Jalut roared with laughter at the sight of the small youth, and even Talut's own army looked incredulously at the sight.


But it was Daud who came out winner. He was a 'superman'. Jalut was killed and later on the young Daud became the new king. He was none other than Prophet Daud a.s. The Qur'an says: “So they routed them by Allah’s leave and Daud killed Jalut, and God gave him (Daud) the kingdom and Prophethood, and taught him of that which He willed. And if Allah did not check one set of people by means of another, the earth would indeed be full of mischief. But Allah is full of Bounty to mankind and all that exists.” (Qur'an 2:251)


The 'ustaz' reminded his audience that each and every one of us must have limitations in our action (doings). From the story of Talut, Jalut and Daud; we could learned something - for example 'to be great' we must have disciplined in ourselves. Of course, it is hard to do so, but we must have the 'muhajadah' (struggle in rejecting vicious desires).


For Muslims the third article in 'Rukun Islam' that is fasting helps us in controlling our desires; one example is regarding food or drink. Consumption of these items are 'haram' (forbidden) during the stipulated time even though they are 'our own and halal belongings'. During Ramadan we are put on test - food and drinks cannot be taken during the day - and during breaking of fast, we too we told not to be a gluttonous - yes please control ourselves.


Other than 'to limit or check ourselves' in taking food and drinks, it is also required to be rational in everything we do for example when we go shopping. True it is your money and you could follow the Western concept of shopping that is 'shop till you drop' but again as a Muslim we should check again what Islam tells us about spending our money.



Yes dear readers, be rational in buying. For example buying clothes, furniture, and luxury that are not necessary is waste of money. Buy if you have or need to do them because Islam forbids stinginess but you must know the difference between economy and stinginess which the religion forbids.



To parents, be moderates in bringing up our children. Don't be too harsh or to lenient. Follow the Islamic way of bringing them up. You are allowed to use the cane, but please know and observe the 'limit'. You don't just cane your child just to 'lepas geram' (releasing your anger ) but do it in the name of Allah SWT, then you would know when to begin and to stop it. Yes, know the limitation.







'Subhanallah', dear readers; Islam teaches us to be moderate in everything we do - it is called 'wasatiyah' - choosing to be in the middle of each and every consequences. But the problem among some of us today especially among our leaders are that when they called for the 'wasatiyah' way of living, they are the ones including their wives do things such as spending money (including public money) like there is no tomorrow and the saddest part of it - like their own hard-earned money! – ES


Rabu, Oktober 01, 2014

Untuk adik bongsu kami

Untuk adik bongsu kami,

Jika ditanya pada ku,
kakak sulung mu..
apa istimewanya kamu ?

Akan ku dahulukan dengan senyuman ..
dan ku jawab ; dia PELENGKAP keluarga kami ..
dan senyuman ku akan terus melebar..
sambil terbayang pelbagai keletahnya..

Dan ku sambung terus jawapan ku..
dengan yakin aku gelarkan dia "PENCERIA" keluarga kami

Sejak dari kecil,
dia selalu berjaya buat kami tersenyum..
dari segi keletah dan akhlaknya..
Kadang suasana tegang menyapa..
InshaAllah, Tak mengapa!  Super ceria kami ada ^_^
Meski kadang gara-gara dia juga keadaan menjadi tegang.. :D
Namun suasana itu bukanlah berterusan..
dengan merendah diri, dia meminta maaf..

Berjaya lagi dia buatkan kami tersenyum!


Dan terus..
dia selalu berjaya buat kami tersenyum..
dengan pencapaiannya yang selalu kami gelarkan "advance"
dari segi pemikirannya..
dari segi soalannya..
selalu sahaja menjadikan kami tertanya kembali.. ? hihi
dan tak mengapa..
soalannya ada kewajaran untuk dijawab..
dan selalunya aku akan berusaha berikan jawapan,
meski sebenarnya.. itulah jawapan "cuba-jaya" ku
dan jika tidak berjaya..
aku minta "masa tambahan" ..
perlu dirujuk pada yang lebih berilmu..
dan Alhamdulillah, dia seorang yang bertimbang rasa,
dia bersetuju, tanpa respon balas mengejek ku..
dia percaya aku akan berusaha mendapatkan jawapan itu.
dia percaya ada jawapan bagi setiap soalannya :D

Ya, Berjaya lagi dia buatkan kami tersenyum!

Dan terus..
dia berjaya buat kami tersenyum..
dari segi pencapaian akademiknya..
Yang selalu menjadi "kejutan" buat kami..
dan bagi ku yang dapat juga melihat usahanya , meski tak selalu..
ku lafazkan
"Alhamdulillah, rezeki yang layak untuknya"
dan selalu kepercayaan ku padanya ; ada.
atau jika tidak..
aku ajarkan caranya bagaimana untuk mendapatkan kepercayaan ku,
agar kembali.. aku percaya padanya

Atas sebab ku kenal dia sejak lahirnya..
dan Alhamdulillah.. tidak mengurangkan nikmat ku sekeluarga..
bahkan mengindahkan hari-hari kami sekeluarga..

Ya,
dia berjaya lagi dia buatkan aku tersenyum!

Tersenyum pada kurnian Allah,
Alhamdulillah..
yang unik , yang berbeza..
yang ada pada kami sekeluarga..


Hari ini..
apabila dia meningkat dewasa,
dan jika ditanya pada ku,
"Mungkinkah senyuman itu akan terukir pada wajah ku.. ?"
InshaAllah ya! Akan ku dahulukan dengan senyuman ..
dan ku jawab ; dia PELUANG keluarga kami..

Jika ada keletahnya tak seindah yang kami harapkan..
(Salahnya juga.. sebab dari kecil selalu buat kami gembira.. hingga harapan kami padanya selalu terbina.hihi )

Adalah tidak adil untuk aku bersedih atau kecewa,
kerana aku yakin...
dia sedang dalam prosesnya untuk membuatkan kami lebih tersenyum.. ^-^
dia sedang melalui proses sukarnya ..
dalam memberikan "kejutan gembira" pada kami..
dia sedang memberikan kami masa,
untuk membantunya agar dapat menjawab persoalan-persoalan dalam hidupnya..

maka

Untuk itu adik,

Senyumlah pada kehidupan mu.
Senyumlah pada yang memberi kehidupan ini.
Dia tak pernah berikan yang terburuk untuk mu.
Selalu baik-baik sahaja.
Ia kehidupan Hadiah Allah buat mu :)
Engkau hadiah Allah pada kami sekeluarga.

Baik-baik dik lalui kehidupan ini.
Lalui titian sabar dan syukur
Ada jalan istiqamah yang perlu kau tempuh
Dan itu juga jalan yang sama untuk kakak mu lalui..

InshaAllah, sama-sama kita usaha!
Jom! :)